COOPERATION FORUM KE-12 BAHAS KESELAMATAN PELAYARAN DAN PERLINDUNGAN MARJITIM - WARTA INDONESIA | MEDIA CERDAS MEMBANGUN BANGSA

Header Ads


COOPERATION FORUM KE-12 BAHAS KESELAMATAN PELAYARAN DAN PERLINDUNGAN MARJITIM



WARTA INDONESIA - SEMARANG
Keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim sudah seharusnya menjadi perhatian utama, tidak hanya bagi ketiga negara pantai, Namun perlu juga  perhatian seluruh stakeholder dan pengguna Selat Malaka dan Selat Singapura. Demikian disampaikan Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi saat membuka pertemuan Cooperation Forum ke-12 yang dilaksnakan di Hotel PO Semarang, Senin (30/9/2019).

Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan hari ini kita mengadakan Cooperation Forum yang ke 12, satu kehormatan bagi Indonesia bisa melaksanakan ini bersama Malaysia dan Singapura. Tentu banyak negara yang concern terhadap selat Malaka mengingat selat Malaka sangat penting. Dalam pertemuan ini kita harus fokus terutama berkaitan dengan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritime.

“ Cooperation Forum adalah pertemuan tahunan di bawah kerangka Cooperative Mechanism yang dilakukan secara bergiliran oleh tiga negara Pantai secara urutan alfabetikal,” ungkap Menhub.

Menhub menjelaskan Cooperation Forum (CF) memegang peranan penting karena merupakan forum pertemuan pejabat setingkat eselon I/ high level (administrasi maritim) dari  3 (tiga) Negara Pantai/Littoral States (Indonesia, Malaysia dan Singapura) dan Negara Pengguna Selat/User Straits, Asosiasi dan Organisasi Internasional. Hal ini, bertujuan untuk meningkatkan dialog dan diskusi mengenai isu-isu yang berkembang di bidang keselamatan pelayaran/ navigasi dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Singapura.

Pertemuan Cooperation Forum akan mengidentifikasi dan menyusun prioritas proyek baik dari Negara Pantai, Negara Pengguna Selat, Asosiasi maupun Organisasi Internasional dalam rangka meningkatkan keselamatan pelayaran/navigasi dan perlindungan lingkungan maritim di kawasan Selat Malaka dan Selat Singapura.

Lebih lanjut Menhub, mengungkapkan karena selat Malaka sangat penting maka harus ada komitmen, yaitu dengan melakukan diskusi beberapa hari ini, Harapannya kedepan adalah adanya suatu rekomendasi-rekomendasi berkaitan dengan bagaimana selat Malaka itu dapat berfungsi dengan baik. Tentunya akan memberikan benefit bagi semua negara termasuk Indonesia akan mendapatkan manfaat. 

“Indonesia secara khusus akan membangun Kuala Tanjung di sana dan kita juga mempersiapkan pandu-pandu yang professional. Oleh karenanya saya harapkan semua pihak memberikan dukungan atas kegiatan-kegiatan ini,” ungkap Menhub.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Laut Agus R. Purnomo pada kesempatan yang sama mengatakan kerja sama ketiga negara selama ini sudah berjalan dengan baik dari segi koordinasi, safety, environment, dan protection. Namun hal ini masih harus terus ditingkatkan.

“Alhamdulillah lancar. (Kerja sama ketiga negara) Kita juga punya alat yang begitu canggih. Ke depan ini yang harus kita tingkatkan terus termasuk nanti SDM, safety dan environmentnya kita tingkatkan. Sehingga pelayanan di selat Malaka bisa lebih efisien dan lebih kompetitif ke depan,” kata Dirjen Agus.

Pertemuan Cooperation Forum akan dilanjutkan dengan 2 Pertemuan lainnya, yaitu Tripartite Technical Expert Working Group (TTEG) dan Project Coordination Committee (PCC) yang dihadiri oleh pejabat setingkat eselon II dari masing-masing Negara Pantai. Untuk membahas usulan dan implementasi terhadap proyek-proyek yang telah disampaikan dan disetujui pada pertemuan Cooperation Forum. 

Cooperative Mechanism dibentuk oleh tiga negara pantai (Indonesia, Malaysia, Singapura) dengan dukungan dari International Maritime Organization (IMO) dengan didasarkan pada kesepakatan Ministerial Meeting di Batam tahun 2005, Jakarta Statement  ‘2005 (Senior Officer Meeting), Kuala Lumpur Statement ‘2006, serta Singapore Statement ‘2007, untuk mengaplikasikan article 43 UNCLOS 1982 yang mendorong peran serta User States dan Stakeholders dalam peningkatan keselamatan & perlindungan lingkungan di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Cooperative Mechanism memiliki 3 komponen, yaitu Cooperation Forum (CF) adalah Komponen Coperative Mechanism yang bertujuan untuk meningkatkan dialog dan diskusi mengenai isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan di Selat Malaka & Singapura, serta untuk mengidentifikasi dan menyusun prioritas proyek dalam rangka peningkatan keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan di Selat Malaka & Singapura.

Selanjutnya Project Coordination Committee (PCC) yaitu Komponen Coperative Mechanism yang bertujuan untuk mengkoordinasikan implementasi berbagai kegiatan proyek yang dilaksanakan dalam kerangka Coperative Mechanism.

Terakhir ada Aids to Navigation Fund (ANF) yakni Komponen Cooperative Mechanism yang bertujuan untuk menghimpun kontribusi dari user states dan stakeholder dalam mengelola dan memelihara Sarana Bantu Navigasi Pelayaran di selat Malaka & Singapura. Saat ini, Sekretariat ANF berada di tangan Singapura.

Pelaksanaan Cooperation-Forum ke-12 ini akan diikuti oleh Pertemuan Tripartite Technical Expert Group (TTEG) ke-44, dan ditutup dengan Pertemuan Project Coordination Committee (PCC) ke-12. CF ke-12 dipimpin oleh Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo dan Direktur Kenavigasian, Basar Antonius sebagai Ketua Delegasi Indonesia.

Pertemuan CF ke-12, TTEG ke-44 dan PCC ke-12 ini dihadiri oleh delegasi-delegasi yang berasal dari tiga negara pantai, Indonesia, Malaysia dan Singapura, negara-negara pengguna seperti Jepang, Australia, China, India, Thailand dan United Kingdom, organisasi internasional terkait seperti Malacca Strait Council (MSC), IMO-IPIECA GISEA, INTERTANKO dan BIMCO, serta stakeholders terkait lain seperti Aero Asahi Corporation Japan dan Witherby Publishing UK.(Oddie/Humas Perhubungan).


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.