IPC/PELINDO II MAMPU BAYAR UTANG GLOBAL BOND SENILAI 22 TRILIUN - WARTA INDONESIA | MEDIA CERDAS MEMBANGUN BANGSA

Header Ads


IPC/PELINDO II MAMPU BAYAR UTANG GLOBAL BOND SENILAI 22 TRILIUN

WARTA INDONESIA - JAKARTA
IPC/PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) menyatakan mampu membayar semua utang global bond senilai 1,6 miliar USD dan bunga lebih Rp1 triliun per tahun.

Kemampuan itu disampaikan oleh Direktur Keuangan PT Pelindo II Widyaka Nusapati, meskipun pendapatan BUMN kepelabuhanan itu diketahui masih belum maksimal dan perlu untuk ditingkatkan lagi melalui penerparan sistim digitalisasi. Semester pertama tahun 2019  IPC telah membayar separuh bunga utang global bond tersebut.

"IPC mampu dan aman untuk membayar semua utang pokok dan bunga obligasi global bond yang saat ini sudah didepositokan di bank dalam negeri," ujar Widyaka Nusapati saat berbincang-bincang dengan WARTA INDONESIA di ruang kerjanya, Selasa (23/7/2019).

Widyaka juga mengatakan, masalah global bond tidak perlu dikhawatirkan lagi, karena sudah aman, bahkan sangat menguntungkan dalam membiayai proyek infrastruktur pelabuhan di lingkungan Pelindo II. 

" Jatuh tempo utang global bond itu masih cukup lama, sekitar 5 tahun lagi," ujarnya.
Menurut dia, bahwa Pinjaman 1,6 miliar USD atau Rp.22 triliun sudah tersedia dengan aman. Dana tersebut didepositokan di bank dalam negeri antara lain BNI, Mandiri dan BRI dengan bunga tinggi.

 "Dalam tempo 6 bulan selisih bunganya saja dilperoleh satu semester mencapai Rp.700,-miliar, sehingga mampu untuk membayar bunga global bond bahkan bunga tersebut masih bersisa setiap tahun," katanya.

Widyaka juga mengakui pendapatan IPC pada semester I tahun 2019 belum begitu maksimal, namun masih mampu membayar bunga global bond tersebut.

Kontribusi keuntungan terbesar hingga saat ini berasal dari TPK Koja, NPCT1 dan JICT, sedangkan unit usaha yang lain seperti anak perusahaan dan cabang belum maksimal.

Hal ini dapat dibuktikan bahwa saat ini NPCT 1 dapat menyumbang pendapatan 56 juta USD, TPK Koja dan JICT sebesar 120 juta USD per tahun.

" Kondisi IPC saat ini tergolong sehat ketika pendapatan dari ketiga anak perusahaan itu apabila dijumlahkan masih sama dengan pendapatan 2018 sebesar Rp2,4 triliun," pungkasnya.

Sementara, berdasarkan siaran pers PT Pelindo II perseroan mencatat laba bersih Rp1,51 triliun pada semester I tahun 2019, naik 25% dibandingkan dengan semester yang sama tahun 2018 sebesar Rp1,21 triliun.

"Kami berupaya mempertahankan tren kenaikan laba bersih perusahaan yang telah berlangsung selama 3 tahun terakhir, di tengah kondisi ekonomi yang penuh dengan tantangan. Laba bersih ini dicapai dari efisiensi dan cost effectiveness," kata Direktur Utama IPC Elvyn G. Masassya, Jumat (26/7/2019).

Meskipun laba bersih mengalami kenaikan, Elvyn juga mengakui bahwa kinerja dan operasional perusahaan secara umum tidak dapat terlepas dari pengaruh kondisi ekonomi saat ini, dimana berdasarkan data BPS, sepanjang semester I tahun 2019 aktivitas ekspor turun 8,6% dan impor turun 7,6%.

Hal tersebut tercermin pada aktivitas bongkar muat peti kemas yang mengalami penurunan sebesar 1,03% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, yakni dari 3,38 juta TEUs menjadi 3,35 juta TEUs.

Penurunan juga terjadi pada arus kapal mencapai 3,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2018, yaitu dari 104,6 juta Gross Ton (GT) menjadi 100,81 juta GT.

Sementara itu, untuk arus barang naik tipis 3,4% dari 27,4 juta ton menjadi 28,4 juta ton. Khusus untuk arus penumpang, terjadi kenaikan dari 317 ribu menjadi 553 ribu orang atau tumbuh 74%.

"Kami optimistis kinerja operasional dan keuangan kembali positif pada semester II ini, sesuai dengan pelaksanaan sejumlah upaya bisnis yang diproyeksikan terealisasi sesuai jadwal," terangnya.

Saat ini, kata Elvyn, IPC terus mengembangkan digitalisasi untuk efisiensi operasional di lapangan. Dalam waktu dekat IPC akan meluncurkan aplikasi logistik untuk memudahkan pergerakan barang mulai dari dermaga, pergudangan, hingga pendistribusiannya ke luar area pelabuhan.

Aplikasi logistik dengan platform digital ini merupakan bagian dari upaya IPC untuk menjadi trade facilitator. "Kami ingin semua operasional di pelabuhan lebih cepat, lebih mudah dan lebih murah. Tak ada lagi yang manual, semuanya berbasis digital dan cashless," ungkap Elvyn.

IPC saat ini terus melanjutkan Proyek Strategis Nasional sesuai penugasan dari Pemerintah, yakni mempercepat pembangunan Terminal Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat, yang direncanakan mulai soft lauching tahun 2020. (Oddie/wI).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.