KUALA TANJUNG BERPELUANG BESAR UNTUK MENJADI PELABUHAN TRANSHIPMENT - WARTA INDONESIA | MEDIA CERDAS MEMBANGUN BANGSA

Header Ads


KUALA TANJUNG BERPELUANG BESAR UNTUK MENJADI PELABUHAN TRANSHIPMENT


WARTA INDONESIA - JAKARTA
Kegiatan terminal peti kemas (TPK) internasional dinilai perlu dipindahkan dari Pelabuhan Belawan ke Pelabuhan Kuala Tanjung agar bisa mengakomodasi kepentingan barang ekspor transhipment.

Salah satu perusahaan pelayaran, PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk, bahkan siap mendukung PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) selaku pengelola Belawan apabila memindahkan kegiatan TPK internasional itu ke Kuala Tanjung.

"Temas akan menjadi perusahaan pelayaran pertama sebagai mengumpul muatan ekspor transhipment dari Aceh ke Kuala Tanjung," ungkap Sutikno Khusomo, Direktur Utama Temas kepada awak media belum lama ini.

Selain Aceh, kata Sutikno, bisa saja muatan ekspor dari pelabuhan lainnya dengan melakukan direct call (pelayaran langsung) dari Indonesia Timur menyinggahi Pelabuhan Kuala Tanjung.

Sementara Direktur Utama PT Prima Multi Terminal Robert Sinaga melalui rilis dari PT Pelindo I (Persero) mengatakan Temas Line akan menjadikan Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) sebagai tanshipment port dengan rutin kapal sandar setiap minggu.

Robert Sinaga mengatakan 2 (dua) kapal milik Temas Line adalah MV Situ Mas dan MV Segoro Mas sandar di KTMT yang dikelola oleh PT Prima Multi Terminal, anak perusahaan Pelindo I, PT Pembangunan Perumahan, dan PT Waskita Karya .
MV Situ Mas dengan panjang 215 meter dan bobot 27.915 ton yang membawa semen dari Jakarta dan membongkar muatan sebanyak 219 boks di KTMT. Adapun, MV Segoro Mas memiliki panjang 96,5 meter dan bobot 3.000 Ton membongkar muatan 140 boks dan muat 120 boks.

"Dua kapal sekaligus milik Temas berangkat dari Jakarta sandar di KTMT pada Selasa, 21 Mei 2019. Temas berkomitmen untuk rutin mengirimkan kapalnya untuk sandar di Kuala Tanjung," ucapnya.

Dijelaskannya, letak geografis pelabuhan Kuala Tanjung yang strategis berada disepanjang Selat Malaka. Dengan kedalaman alur sekitar 16 - 18 meter Low Water spring (LWS), mampu disandari kapal besar. Pelabuhan ini telah memiliki fasilitas kepelabuhanan yang lengkap dan modern, mejadikan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai transhipment port.

" Dengan adanya transhipment ini, diharapkan kedepan dapat menurunkan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi waktu pengiriman," pungkasnya.

General Manager Belawan Internasional Container Terminal (BICT) Aris Zulkarnain berpendapat tidak keberatan apabila terminal internasional dipindahkan ke Kuala Tanjung.

Mengingat kapal kapasitas besar saat ini sudah dapat dilayani di Kuala Tanjung, sedangkan di Belawan alur masuk sangat terbatas sehingga sulit untuk mendatangkan kapal besar.

Menurut Aris Zulkarnain bahwa throughput peti kemas di BICT sebagai cabang Pelindo I diprediksi terus tumbuh. Setelah pencapaian kinerja BSH yang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

"Kami berkeyakinan realisasi throughput peti kemas akan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya kinerja produktivitas BSH di BICT dalam lima tahun terakhir," ujarnya.

Aris zulkarnain menjelaskan saat ini throughput BICT meningkat walaupun tidak tajam. Untuk 2018 tercatat 586.299 TEUs dengan 576 call (kunjungan kapal) 9 pelayaran, sedangkan tahun 2017 sebesar 526.039 TEUs oleh 10 pelayaran dengan 547 call.

Selain throughput, produktivitas merupakan kebanggaan BICT khususnya bagi pendukung windows system. Sebut saja BSH untuk tahun 2018 rata-rata sebesar 52,34 yang jauh di atas standar Ditjen Perhubungan Laut.

Aris Zulkarnein menambahkan, upaya pembenahan sumber daya manusia pun diterapkan di BICT guna meningkatkan produktivitas perusahaan yang hanya dapat direalisasikan oleh pekerja andal.

"Konsisten dalam produktivitas dibutuhkan para pelanggan, pencapaian BSH kami didukung sumber daya manusia yang kompeten. Walaupun fasilitas alat bongkar muat kami masuk golongan produk lama," tutup Aris.(Oddie/WI).



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.