ELI PENJAGA RAMBU SUAR PERBATASAN INDONESIA - AUSTRALIA DI PULAU SELARU MALUKU TANPA GAJI (HONOR) - WARTA INDONESIA | MEDIA CERDAS MEMBANGUN BANGSA

Header Ads


ELI PENJAGA RAMBU SUAR PERBATASAN INDONESIA - AUSTRALIA DI PULAU SELARU MALUKU TANPA GAJI (HONOR)

 

WARTA INDONESIA - MALUKU 

Dalam seminggu kebelakang, jagat media baik media online maupun media sosial terus diramaikan oleh pemberitaan mengenai sosok Elkana Amarduan (62 tahun) yang akrab dipanggil Eli. Karena Eli telah mengabdikan dirinya menjaga menara suar di wilayah perbatasan Indonesia dan Australia tepatnya di Pulau Elkana, Maluku tanpa digaji Pemerintah Indonesia.


Eli mengungkapkan bahwa dirinya secara sukarela menjaga menara suar tersebut selama 23 tahun. Karena dilatari kecintaannya terhadap Indonesia terutama dalam menjaga aset negara. Dalam rangka memastikan menara suar yang dijaganya dapat terus berfungsi. Untuk memberikan panduan keselamatan pelayaran kepada kapal-kapal yang memasuki perairan di wilayah itu.

Mendengar dan memperhatikan adanya pemberitaan ini, Distrik Navigasi kelas III Tual dan Humas Kantor Pusat Ditjen Perhubungan Laut segera mengirimkan tim ke lapangan untuk bertemu Eli di pulau tersebut dan begini kisah kami saat berhasil bertemu dengan Eli.

Awalnya sebelum keberangkatan, Kepala Distrik Navigasi Kelas III Tual, Budi Setiaji mengumpulkan jajarannya. Untuk melakukan sejumlah persiapan termasuk pengumpulan data baik Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) yang ada di wilayah kerjanya khususnya di Pulau Selaru dimana tempat Eli menjaga menara suar itu berada.

Dari pengumpulan datanya, diketahui bahwa di pulau Selaru tidak ada menara suar melainkan rambu suar, yang berada di pulau itu artinya selama ini Eli menjaga rambu suar bukan menara suar.

"Kami sudah melakukan pengecekan data bahwa di Pulau Selaru bukan menara suar tetapi adalah rambu suar. Kalau menara suar memang ada penjaganya dan Pemerintah telah menganggarkan. Untuk menggaji penjaganya sedangkan rambu suar memang tidak ada penjaganya," ujar Budi Setiaji dalam keterangan persnya kepada awak media, Sabtu(18/5/2019).

Budi Setiaji menjelaskan bahwa perbedaan antara Menara Suar dan Rambu Suar dapat dilihat dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. 25/2011 tentang Sarana Bantu Navigasi Pelayaran yang menyebutkan bahwa Menara suar adalah Sarana Bantu Navigasi. Pelayaran tetap yang bersuar dan mempunyai jarak tampak sama atau lebih 20 (dua puluh ) mil laut  dapat membantu para navigator. Dalam menentukan posisi dan/atau haluan kapal,menunjukkan 
arah daratan dan adanya pelabuhan serta dapat dipergunakan sebagai tanda batas wilayah negara.

"Sedangkan Rambu Suar adalah Sarana Bantu Navigasi Pelayaran tetap yang bersuar dan mempunyai jarak tampak sama atau lebih dari 10 (sepuluh) mil laut.  Yang dapat membantu para navigator adanya bahaya/rintangan navigasi antara lain karang, air dangkal, gosong, dan bahaya terpencil serta menentukan posisi dan/atau haluan kapal serta dapat dipergunakan sebagai tanda batas wilayah negara," paparnya.

Lebih jauh Budi Setiaji mengatakan karena sifatnya yang statis dan bekerja dengan otomatis. Maka Rambu Suar tidak perlu dijaga dan hanya ada perawatan rutin yang dilakukan oleh Distrik Navigasi Kelas III Tual.

Setelah memastikan data di lapangan, Kadisnav Tual beserta rombongan melakukan perjalanan ke Pulau Selaru pada hari Kamis, 16 Mei 2019 lalu. Ikut dalam rombongan adalah Kasubbag Tata Usaha Disnav Tual, Imran Tamher, Kepala Seksi Logistik, Ruswan Wusurwut, Ka.SROP Saumlaki, Budi Ferdinalampir, petugas Wilker Ramsu Arausu dan perwakilan tokoh masyarakat setempat.

"Kami menempuh perjalanan dari Ambon dengan pesawat kecil ke Saumlaki, dilanjutkan dengan kapal speed boat ke pelabuhan Adaud Kecamatan Selaru selama 1.5 jam. Dilanjutkan dengan angkutan mobil ke Desa Elyasa selama 2.5 jam serta dilanjutkan dengan sepeda motor ke lokasi Rambu Suar selama 20 menit," terang Budi Setiaji.

Perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih 5 jam dan akhirnya rombongan tiba di Desa Elyasa pulau Selaru, tempat Rambu suar Arausu berada.

"Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh Bapak Eli dan warga sekitar. Terlihat rasa bahagia dari raut muka Bapak Eli melihat kedatangan kami," ujar lagi Budi Setiaji menceritakan perjalanan.

Di lokasi Rambu Suar, katanya rombongan Disnav Tual berbincang santai dengan Eli dan menyampaikan apresiasinya atas kesukarelaan Eli dalam menjaga rambu suar setinggi 35 meter tersebut.

Pada kesempatan itu Kadisnav Tual menjelaskan perbedaan antara menara suar yang memang ada penjaganya dan rambu suar yang tidak perlu ada penjaganya. Sehingga sempat sebelumnya terjadi kesalahan pengertian oleh Eli.

"Namun demikian, kami tetap memberikan apresiasi kepada Eli yang sudah secara sukarela, membantu menjaga dan merawat rambu suar atas dasar kecintaannya terhadap aset negara dan Republik ini," ucapnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan bahwa dalam kunjungannya ini, Pemerintah memberikan penghargaan kepada Eli, sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya dalam menjaga dan merawat rambu suar yang berada di lokasi ini.

Penjelasan yang disampaikan Kadisnav Tual telah dapat dipahami  Eli dan saat itu juga Eli meyakini apa yang telah dikerjakan selama ini, memang dilakukan secara sukarela. Eli juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran rombongan di pulau Selaru. Sebagai bukti kepedulian dan kehadiran negara terhadap dirinya dan juga pulau Selaru.

Setelah dari lokasi rambu suar, Eli mengundang rombongan ke rumahnya, dan memberikan cinderamata berupa syal sebagai bentuk penghormatan atas kehadiran rombongan Disnav Tual ke Pulau itu.

" Terima kasih Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Perhubungan cq. Ditjen Perhubungan Laut melalui Distrik Navigasi Tual yang telah peduli dan hadir di Pulau ini. 

Seperti yang Kadisnav sampaikan kepada saya untuk terus "bekerja dengan hati maka hasil akan mengikuti" tentunya meyakini saya untuk terus menjaga rambu suar dengan sukarela dan ikhlas guna mendukung terwujudnya keselamatan pelayaran," pungkas Eli.

Ditjen Perhubungan Laut sangat mengapresiasi tindakan yang dilakukan  Eli dan berharap semua masyarakat dapat menjaga dan memelihara keberadaan SBNP. Baik berupa Menara suar, rambu suar maupun pelampung suar dengan tidak merusak ataupun mencuri peralatannya. Karena keberadaan SBNP tersebut sangat vital dalam menunjang keselamatan pelayaran.

Sebagai informasi, data Direktorat Kenavigasian per Desember 2018 mencatat jumlah SBNP di seluruh Indonesia milik Ditjen Perhubungan Laut yaitu menara suar  284 unit, Rambu Suar 1.852 unit dan Pelampung Suar sebanyak 534 unit.
(Oddie/WI).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.