DELEGASI INDONESIA HADIR DALAM PERTEMUAN DI IMO BAHAS GLOFOULING PARTNERSHIP PROJECT - WARTA INDONESIA | MEDIA CERDAS MEMBANGUN BANGSA

Header Ads


DELEGASI INDONESIA HADIR DALAM PERTEMUAN DI IMO BAHAS GLOFOULING PARTNERSHIP PROJECT


WARTA INDONESIA - LONDON 

Kementerian Perhubungan Cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengirimkan delegasinya untuk menghadiri Inception Workshop dan 1st Meeting of the Global Project Task Force of the GEF-UNDP-IMO GloFouling Partnership Project yang diselenggarakan di Markas Besar International Maritime Organization (IMO) London sejak tanggal 18 sampai dengan 20 Maret 2019.


Delegasi Indonesia ini terdiri dari perwakilan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan serta Bagian Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Delegasi tersebut dipimpin langsung Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Capt. Sudiono yang ditunjuk sebagai National Focal Point Indonesia untuk GloFouling Partnership Project dimaksud.

Capt. Sudiono menjelaskan GloFouling Partnership Project, adalah kegiatan yang diinisiasi oleh IMO, bekerja sama dengan Global Environment Facility (GEF) dan United Nation Development Program (UNDP). Kegiatan ini bertujuan untuk meminimalkan perpindahan spesies aquatic melalui biofouling, atau untuk meminimalkan perkembangan kumpulan organisme aquatic pada bagian bawah lambung dan struktur kapal. 

Dikatakannya, project ini akan fokus pada implementasi IMO Guidelines for the Control and Management of Ships’ Biofouling to Minimize the Transfer of Invasive Aquatic Species (Biofouling Guidelines) sesuai dengan Resolusi MEPC.207 (62).

“Acara Workshop dan Meeting ini, dihadiri oleh para National Focal Point dan National Project Coordinator dari Lead Partnering Countries dari Projet ini, GEF, UNDP, serta potential donors sebagai observers,” ungkapnya. 

Lebih lanjut, Capt. Sudiono mengatakan bahwa Lead Partnering Countries (LPC) dalam Project ini terdiri dari 12 (dua belas) negara berkembang yang tersebar di seluruh dunia, yaitu Brazil, Ecuador, Fiji, Indonesia, Jordan, Madagascar, Mauritius, Mexico, Peru, Filipina, Sri Lanka, dan Tonga. 

“Kedua belas negara ini memiliki akses langsung dengan IMO-based Project Team, dapat menyelenggarakan pertemuan-pertemuan regional, serta mendapatkan dukungan untuk menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan kebutuhan di negara tersebut,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, Project ini didukung oleh 50 (lima puluh) mitra, termasuk negara-negara maju, LSM, akademisi dan lembaga penelitian, serta sektor swasta. 

Pertemuan ini katanya selain untuk membahas lebih mendalam mengenai GloFouling Project dan Biofouling Management, masing-masing National Focal Point dari setiap Lead Partnering Countries akan mempresentasikan terkait status terkini Project dimaksud di negara masing-masing.

“Saya selaku National Focal Point telah menyampaikan, bahwa untuk dapat menjalankan Project ini kita membutuhkan dukungan dari semua Kementerian dan Lembaga terkait, serta tentunya Industri Pelayaran,” jelasnya.

Kementerian yang akan terlibat tersebut antara lain adalah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perindustrian, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), PUSHIDROS TNI AL, PT. Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), serta Indonesian National Shipowners’ Association (INSA).

Lebih jauh,  Capt. Sudiono menyampaikan, bahwa di samping Project Glofouling ini, Indonesia bersama enam negara anggota ASEAN lainnya saat ini telah tergabung dalam project Marine Environment Protection for South East Asia Seas (MEPSEAS), yang merupakan kerja sama dengan IMO Norad. Adapun untuk Project MEPSEAS, Indonesia akan fokus pada pelaksanaan 2 konvensi, yaitu Konvensi Anti Fouling System (AFS) dan Konvensi BWM (Ballast Water Management). Dalam Project MEPSEAS ini juga telah dibentuk Tim Task Force yang bertugas untuk mengawasi dan mengendalikan agar MEPSEAS Project dapat berjalan sesuai target.

Sedangkan, jika bicara mengenai aspek implementasi, Capt. Sudiono memaparkan bahwa Indonesia menghadapi beberapa tantangan dalam mengimplementasikan GloFouling Project ini. Salah satu tantangan besar, ujarnya, adalah luasnya wilayah yang perlu dikelola, ditambah dengan banyaknya organisame laut, wilayah-wilayah sensitif dan juga adanya 3 ALKI. 

“Indonesia memang memiliki posisi strategis dalam rute pelayaran dunia, namun posisi strategis ini menimbulkan potensi terjadinya kerusakan lingkungan maritime yang diakibatkan oleh polusi lingkungan laut, termasuk perpindahan bio-fouling oleh kapal,” imbuhnya.

Capt. Sudiono memaparkan sebagai Lead Partnering Country, Indonesia telah menyiapkan berbagai rencana untuk diterapkan dalam Project ini, seperti akan menunjuk kandidat untuk diusulkan sebagai National Consultant. Menyiapkan dana untuk mendukung kelancaran project ini, serta menunjuk Tim Task Force.

“Sebagai perbandingan, pada MEPSEAS Project, Indonesia akan mulai melakukan baseline study pada tahun 2019. Oleh karena itu, kami berharap pada tahun ini sudah dapat dilaksanakan Workshop terkait dengan Glofouling Project,” pungkasnya. (Oddie/WI).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.